Berkali-kali ... Iya, sudah berkali-kali kau buat aku seperti ini.
Diam, tetapi tak memikirkan apa-apa. Menangis, tetapi menangisi sesuatu yang tak pantas untuk ditangisi.


Terimakasih, karena berkali-kali kau membuatku bahagia. Tetapi, berkali-kali juga kau membuatku tak berdaya. Seperti orang bodoh yang hanya bisa pasrah melihat keadaan. Seperti pengemis yang meminta-minta suatu kepastian tetapi tak dihiraukan.

Sepertinya kau tak menyadari bahwa ada seseorang yang tersakiti olehmu. Sakit karena perlakuanmu, sakit karena perkataanmu dan sakit karena janjimu.

Terkadang aku bahagia, karena kau ada menemani aku. Tetapi disaat kau tak ada, apa yang aku lakukan? Aku hanya bisa memikirkanmu. Tanpa berani menanyakan dimana dirimu, bersama siapa, dan sedang apa.

Memang, aku memang seseorang yang mempunya ikatan denganmu. Tapi entah kenapa aku sedikit canggung jika aku lakukan itu semua. Bukan karena takut, tetapi aku tidak terbiasa melakukannya. Aku seperti malu untuk melakukannya, terutama malu kepada diriku sendiri.

Mungkin bagi beberapa orang yang sudah mempunyai ikatan itu wajar. Tetapi tidak untuk aku. Aku menganggap semuanya sama. Aku memperlakukan semuanya sama. Tidak memilih apakah dia sahabat atau kekasihku?

Berkali-kali kau mengatakan padaku tentang sifatku yang terlalu tak perduli denganmu. Jika kau tak suka dengan sifatku, tetapi mengapa berkali-kali juga kau mengatakan sayang kepadaku? Huuh ... Aku tak mau berfikir yang aneh aneh.

Aku tak ingin waktuku berkali-kali terbuang hanya untuk memikirkanmu. Tetapi aku ingin, berkali-kali lah kau menghubungiku ...

Leave a Reply