Aku yakin, pasti semua orang di dunia ini pernah marah. Tapi tingkat kemarahan seseorang pasti berbeda-beda. Begitu pula dengan aku. Entah itu marah kepada seseorang atau marah dengan system sekolah yang terlalu mengekang murid-muridnya untuk selalu dan selalu mengejar nilai.

Pasti hampir semua orang mempunyai tempat unruk melampiaskan kemarahannya. Entah itu kepada benda hidup maupun benda mati atau mungkin mengekspresikannya dengan bagaimanapun, asalkan mereka bisa tenang kembali. Tapi entah kenapa aku tak pernah bisa meluapkan kemarahanku dan menunjukkannya kepada siapapun. Aku lebih merasa tenang setelah aku menuliskan apa yang aku rasakan saat itu.
 

Blog ini. Dia bagaikan buku diary-ku. Dia tahu tentang banyak hal tentang aku. Karena aku tak mau bercerita kepada siapapun. Aku takut, jika aku menceritakannya kepada seseorang itu malah menjadi senjata bagi mereka yang ingin menurunkan harga diriku.  Tapiii, jika mereka tahu alamat blog ku? Aku tak perduli, ini memang kenyataannya dalam hidupku. Dan sebelum aku menuliskan di blog ini, aku memilahnya terlebih dahulu.

Hmmm, seperti yang sudah aku bilang tadi. Setiap orang pasti pernah marah, dan mereka pasti akan mencari sesuatu agar mereka bisa tenang kembali.

Bukan hanya blog, banyak sekali benda mati yang menjadi saksi bisu hidupku. Termasuk jugaaaa, kotak biru itu. Di sini, di blog ini, aku hanya melampiaskan sedikit kemarahanku. Tapi di kotak biru itu? Mereka tau banyak hal apapun tentang aku, begitu juga perjuanganku. Dan aku tak ingin ada orang yang membaca isi dalam kotak itu.

Tapii suatu saat, aku lupa meletakkannya di lemari plastik yang aku gunakan untuk menyimpan buku-buku ku biasanya. Saat itu, kotak biru itu berada diatas tempat tidurku. Karena semalam aku mencurahkan kemarahanku. Tapi sebelum berangkat sekolah aku lupa meletakannya kembali. Dan aku tak berfikir akan ada orang yang masuk kedalam kamarku.

Setelah pulang sekolah, kotak biru yang tadinya berada diatas tempat tidur sekarang berada di atas meja belajarku. Tapi aku tak merasa curiga sedikitpun. Aku hanya berfikir bahwa ada seseorang yang memindahkannya saja karena seprei yang aku gunakan biasanya diganti dengan  yang baru. Tanpa membukanya lagi, aku meletakkannya di lemari plastik biasanya.

Sudah lamaaa sekali aku tak membukanya lagi, karena aku tidak lagi benar-benar marah beberapa bulan ini. Sampai akhirnya aku rindu dengan tulisanku saat aku sedang marah. Perlahan aku membuka kotak itu dan mencoba membaca lagi potongan demi potongan kertas yang sengaja aku sobek kecil-kecil. Sesekali aku tersenyum dan membayangkan betapa marahnya aku saat itu. Sampai akhirnya aku dikejutkan dengan beberapa lembar kertas yang berisi tentang suatu pilihan, tapi aku tak pernah berharap bahwa akan ada jawaban.

Mungkin jawaban itu turun dari tuhan yang Ia kirimkan kepadaku melalui seseorang supaya aku lebih giat lagi dalam menggapai sesuatu.

Yaah, orang itu adalah mama. Mama yang menuliskan jawaban-jawaban itu untukku. Beliau menunjukkan kepadaku, mana yang harus aku pilih. Beliau memilihkan yang terbaik untukku. Aku yakin pasti mama juga tak ingin melihatku bingung dalam memilih sesuatu terutama pilihan untuk mencapai kesuksesan. Dan pasti akan ada tantangan untuk mencapai puncak tertinggi. Makasih Mamaaaaa =))





Aku yakin itu tulisan mama, karena beliau sering membantuku mengerjakan tugas, terutama dalam hal merangkum :DD

Leave a Reply